HTML/JS

Jumat, 27 September 2013

Komunikasi & Leadership


Definisi Komunikasi

Kita sebagai makhluk social tentunya takkan pernah dari yang namanya komunikasi. Mulai dari terbangun dari tidur hingga terlelap lagi pasti kita memerlukan komunikasi dalam hidup. Komunikasi adalah kebutuhan kita karena tanpa komunikasi manusia sulit untuk bias hidup. Komunikasi ada yang secara verbal maupun nonverbal, namun apa yang di maksud dengan komunikasi itu sendiri ?

http://kampungjampung.files.wordpress.com/2012/01/leader.jpg  

Kata “komunikasi” berasal dari bahasa Latin, “comunis”, yang berarti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Akar katanya “communis” adalah “communico” yang artinya berbagi (Stuart,1983, dalam Vardiansyah, 2004 : 3). Dalam literatur lain disebutkan komunikasi juga berasal dari kata “communication” atau “communicare” yang berarti " membuat sama" (to make common). Istilah “communis” adalah istilah yang paling sering di sebut sebagai asal usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata kata Latin yang mirip  Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan di anut secara sama.
Melihat pengakaran kata dari komunikasi sekarang kita mulai mengerti apa maksud dasar dari komunikasi itu sendiri. Beberapa ahli banyak yang telah mendefinisikan apa itu yang dimaksud dengan komunikasi. Ada yang mendefinisikannya secara detail ada juga yang secara permukaan saja.

Pawito dan C Sardjono (1994 : 12) mencoba mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dengan mana suatu pesan dipindahkan atau dioperkan (lewat suatu saluran) dari suatu sumber kepada penerima dengan maksud mengubah perilaku, perubahan dalam pengetahuan, sikap dan atau perilaku overt lainnya. Sekurang-kurangnya didapati empat unsur utama dalam model komunikasi yaitu sumber (the source), pesan (the message), saluran (the channel) dan penerima (the receiver).

Wilbur Schramm menyatakan komunikasi sebagai berikut :
“Komunikasi berasal dari kata-kata (bahasa) Latin communis yang berarti umum (common) atau bersama. Apabila kita berkomunikasi, sebenarnya kita sedang berusaha menumbuhkan suatu kebersamaan (commonnes) dengan seseorang. Yaitu kita berusaha berbagai informasi, ide atau sikap. Seperti dalam uraian ini, misalnya saya sedang berusaha berkomunikasi dengan para pembaca untuk menyampaikan ide bahwa hakikat sebuah komunikasi sebenarnya adalah usaha membuat penerima atau pemberi komunikasi memiliki pengertian (pemahaman) yang sama terhadap pesan tertentu” (Suprapto, 2006 : 2-3).

Sedangkan, Larry A Samovar, Richard E Porter dan Nemi C Janin dalam bukunya Understanding Intercultural Communication mendefinisikan komunikasi sebagai berikut :
“Communication is defined as a two way on going, berhaviour affecting process in which one person (a source) intentionally encodes and transmits a message throught a channel to an intended audience (receiver) in order to induce a particular attitude or behaviour” (Purwasito, 2003 : 198).

Bila ditarik benang merahnya antara ahli satu dengan lainnnya memiliki kesamaan yang itu adanya perpindahan atau transfer informasi dari pemberi informasi kepada penerima informasi. Kenyataannya memang sulit untuk menarik definisi yang pasti dari komunikasi dikarenakan komunikasi itu terlihat sebagai kata yang abstrak.
  
 
http://the-marketeers.com/wp-content/uploads/2012/02/EbonyG00298_LuMaxArt1-1024x1024.jpg
  
 






















Dimensi Komunikasi

1.      Komunikasi sebagai proses
Disebut sebagai proses karena memang ketika seseorang berkomunikasi ada transfer informasi yang dilakukan antara sender kepada receiver sehingga informasi itu dapat ditangkap dan dimengerti oleh receiver.

2.      Komunikasi sebagai simbolik
 Simbol dapat dinyatakan dalam bentuk bahasa lisan atau tulisan (Verbal) maupun melalui isyarat – isyarat tertentu (non- Verbal). Simbol disini berarti sebuah tanda atau lambang hasil kreasi manusia atau bisa dikatakan sebuah tanda hasil kreasi manusia yang dapat menunjukkan kualitas budaya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Contohnya seperti ketika sedang mengangguk itu memiliki makna bahwa kita setuju, dan ketika menggeleng kita tidak setuju. Namun harus dilihat juga factor dari budaya yang dianut, karena setiap budaya memiliki symbol yang berbeda-beda dalam berkomunikasi.

3.       Komunikasi sebagai sistem
Bila komunikasi ditinjau sebagai system, jelas terlihat sekali bentuknya. Sistem adalah suatu bagian-bagian yang saling berinteraksi untuk mencapai satu tujuan. Pada komunikasi perlu adanya peran sender, receiver, Informasi, intonasi dll. Bila kombinasi antara masing-masing bagian tersebut kurang tepat atau tidak pas maka mungkin akan terjadi kesalahan dalam interpretasi informasi yang diterima, bahkan lebih buruk lagi informasi tersebut sama sekali tidak tersampaikan.

4.      Komunikasi sebagai transaksional
Mustahil komunikasi terjadi tanpa melibatkan orang lain, dalam proses yang demikian akan timbul action dan interaction diantara para pelaku komunikasi.

5.       Komunikasi sebagai aktivitas sosial
Karena komunikasi melibatkan hubungan antara dua orang atau lebih maka akan mengakitbatkan terjadinya aktivitas social yang dimaksudkan untuk tujuan tertentu.

6.      Komunikasi sebagai multidimensional
Kalau komunikasi dilihat dari perspektif multidimensional ada 2 tingkatan yang dapat diidentifikasikan yakni dimensi isi dan dimesi hubungan.
Dimensi isi : lebih menunjukkan pada kata, bahasa dan informasi yang dibawa pesan. Jadi seperti orang madura berbicara dengan orang jawa pasti bahasa yang mereka gunakan pun juga berbeda disinilah dimensi isi menunjukkan hal tersebut dalam komunikasi.
Dimensi hubungan : menunjukkan bagaimana proses komunikasi berinteraksi satu sama lain. Masih dengan contoh diatas dimensi hubungan menunjukkan bagaimana mereka berinteraksi, media apa yang mereka gunakan, apakah ada bahasa tubuh atau simbol-simbol yang digunakan. Itu dilihat dari dimensi hubungan.

    
http://www.marketing.co.id/wp-content/uploads/2013/06/5-Kunci-Kepemimpinan-yang-Efektif.jpg
 


Definisi Leadership

            Leadership atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan kepemimpinan. Dalam sebuah Organisasi biasanya posisi pemimpin berada diatas atau dengan kata lain membawahi orang lain. Namun apakah hanya sebatas itu saja arti dari kepemimpinan ? Apakah ada arti yang lebih spesifik dan mendalam ?
            Kepemimpinan adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di antara pemimpin dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya (Joseph C. Rost.,1993). Demikian menurut Rost, jadi adanya hubungan yang saling mempengaruhi diantara atasan dan bawahan.
            Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum (H.Koontz dan C. O'Donnell). Sedangkan Koontz dan O’Donnell lebih menekankan pada sifat mempengaruhi, memberdayakan orang lain untuk mencapai tujuan.
            Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi (Katz dan Kahn). Kepatuhan menjadi garis bawah dari definisi kepemimpinan dari Katz dan Kahn.
            Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).

    
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNP5FFqJq7hoiAUZqtoxvsDYSwjKsJmz8zLSAyG3RqhvzPHBNLCRHNrhvFA6lVLh2UUuGk9kkiSgcpjao_FxDJjuPL-pgZveSZjPwRzZ-zN9OWGYP2ezxjsj0USHimg7kuWMaUg6fx-W9L/s1600/agrata.jpg



Teori Kepemimpinan

Teori X dan Y (Douglass Mc Gregor)
Teori prilaku adalah teori yang menjelaskan bahwa suatu perilaku tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan pemimpin pada orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer / pemimpin organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai / karyawan yaitu teori X atau teori Y.

    
http://ecx.images-amazon.com/images/I/71OvWOs4P2L._SL1500_.jpg  


A. Teori X
Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk sedikit sekali mau bergerak dan tidak suka bekerja serta senang menjauh dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Pekerja memiliki ambisi yang sedikit untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Biasanya orang-orang yang bertipe X ini adalah pegawai, karena mereka tidak memiliki inisiatif yang tinggi untuk bergerak dan lebih cocok dipimpin dan diarahkan.
B. Teori Y
Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja..Orang-orang bertipe Y lebih banyak menjadi manajer atau pemimpin perusahaan , walaupun ada yang menjadi pegawai tetapi pasti jabatannya akan cepat naik karena mereka memiliki inisiatif dan tanggung jawab yang tinggi.
           
Teori Sistem 4 (Rensis Likert)
            Gaya Kepemimpinan Empat Sistem. Likert merancang 4 sistem kepemimpinan dalam manajemen:

    
http://classnotes--org-and-gov-2013.wmwikis.net
 

1. Sistem 1 (Exploitative Authoritative). Manajer sangat otokratis, sulit untuk mendengar aspirasi dari bawahannya, selalu menekan bawahan dan mengambil keputusan hanya pada atasan saja.

2. Sistem 2 (Otokratis yang baik hati/Benevolent autoritative). Manajernya mempunyai kepercayaan yang terselubung, percaya pada bawahan, memotivasi,memperbolehkan adanya komunikasi ke atas. Bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya.

3. Sistem 3. (Manajer Konsultatif). Manajer mempunyai sedikit kepercayaan pada bawahan biasanya kalau ia membutuhkan informasi, ide atau pendapat bawahan Bawahan disini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaan bersama atasannya.

4. Sistem 4, (Pemimpin yang bergaya kelompok berpartisipatif/partisipative group). Manajer mempunyai kepercayaan yang sempurna terhadap bawahannya. Dalam setiap persoalan selalu mengandalkan untuk mendapatkan ide-ide dan pendapat dari bawahan dan mempunyai niatan untuk menggunakan pendapat bawahan secara konstruktif. Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugasnya bersama atasannya.

Teori Kepemimpinan Pattern Choice (Tannenbaum dan Schmidt)

Berikut adalah Tannenbaum dan Schmidt didelegasikan tingkat kebebasan, dengan beberapa tambahan penjelasan bahwa seharusnya membuat lebih mudah untuk memahami dan menerapkan. 

    
http://50.asc.upenn.edu
 
Kepemimpinan Pola 1: “Para pemimpin membuat keputusan dan mengumumkan ke grup/bawahan.”
Contoh: Pemimpin memutuskan bahwa tim akan mengadakan pertemuan pada hari Senin dan mengatakan berita itu kepada tim, apakah mereka suka atau tidak.

Kepemimpinan Pola 2: “Pemimpin menjual keputusan.” Para pemimpin membuat keputusan kemudian meyakinkan kelompok bahwa keputusan yang diambil benar.
Contoh: Pemimpin mengatakan kepada anggota tim bahwa mereka akan bertemu pada hari Senin. Pemimpin kemudian meyakinkan anggota tim bahwa Kamis adalah hari-hari terbaik untuk bertemu.

Kepemimpinan Pola 3: “Pemimpin menyajikan ide-ide/pemikiran dan mengundang pertanyaan-pertanyaan.”
Contoh: Pemimpin tim mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan membuat hari Kamis untuk pertemuan tim. Pemimpin kemudian mempersilahkan kelompok jika mereka memiliki pertanyaan.

Kepemimpinan Pola 4: “Pemimpin menyajikan keputusan yang bersifat sementara untuk kelompok yang kemungkinan dapat diubah.”
Contoh: Pemimpin kelompok bertanya apakah hari Kamis akan menjadi hari yang baik untuk bertemu. Tim menyarankan hari-hari lain yang mungkin lebih baik.

Kepemimpinan Pola 5: “Pemimpin menyajikan masalah, meminta saran, dan membuat keputusan.”

    
http://lh6.ggpht.com
 

Contoh: Pemimpin meminta tim untuk menyarankan hari-hari baik untuk bertemu, maka pemimpin memutuskan hari apa tim akan bertemu.
·Kepemimpinan Pola 6: “Pemimpin merumuskan batas-batas, dan meminta kelompok bawahan untuk membuat keputusan.”
Contoh: Pemimpin mengatakan bahwa anggota tim harus memenuhi setidaknya sekali seminggu, tetapi tim bisa memutuskan mana hari adalah yang terbaik.
Kepemimpinan Pola 7: “Pemimpin mengizinkan bawahan melakukan fungsi-fungsinya dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh pimpinan.”
Contoh: Pemimpin mempersilahkan anggota tim untuk memutuskan kapan akan megadakan rapat.

Demikian Semoga bermanfaat, Terima Kasih.

Sumber :
Pawito, dan C Sardjono. Teori-Teori Komunikasi. Buku Pegangan Kuliah Fisipol Komunikasi Massa S1 Semester IV. Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 1994.

http://www.ut.ac.id/html/suplemen/adpu4334/w2_1_1_1.htm
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/194505031971091-MUHAMMAD_KOSIM_SIRODJUDIN/DEFINISI_DAN_TEORI_KEPEMIMPINANx.pdf
http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepemimpinan-menurut-para-ahli/
http://organisasi.org/definisi-pengertian-teori-perilaku-teori-x-dan-teori-y-x-y-behavior-theory-douglas-mcgregor
http://id.scribd.com/doc/57080877/Gaya-Kepemimpinan-Empat-Sistem-Manajemen-Dari-Likert
(http://cahpct.blogdetik.com/2009/04/02/definisi-komunikasi/).
sriherwindya.staff.uns.ac.id/files/2010/07/definisi.doc
http://karanindah.blogspot.com/2012/11/dimensi-perspektif-komunikasi.html
http://adityaadityaa.wordpress.com/2013/09/26/komunikasi-dan-leadership/

Rabu, 03 Juli 2013

Kaitan antara Abnormalitas dengan Konsep Motivasi, Stress dan Gender


                Kebanyakan orang mengira bahwa sesuatu yang abnormal adalah sesuatu yang biasanya minoritas karena dianggap berbeda dari kebanyakan orang. Di Indonesia berciuman di depan umum merupakan hal yang amat abnormal, atau dalam kata lain masih sangat tabu, tetapi di lain pihak seperti di Amerika berciuman di depan umum sudah menjadi hal yang lumrah. Jadi apakah batasan abnormal terletak pada mayor atau minornya suatu hal ? Dalam Islam bila seseorang mencuri maka tangannya harus di potong, di Arab mungkin ini sangat berlaku dan dianggap suatu yang normal. Tetapi menurut orang-orang Barat ini adalah sesuatu yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Jadi apakah sesuatu yang abnormal harus berdasarkan pada norma atau aturan tertentu ?
Menurut Supratiknya (1995) merumuskan konsep normal dan abnormal agak susah dikarenakan,
     1. Sulit menemukan model manusia yang ideal dan sempurna,
    2. Dalam banyak kasus tidak adanya batas-batas yang jelas antara perilaku normal dan abnormal.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) abnormal adalah tidak sesuai dng keadaan yg biasa; mempunyai kelainan; tidak normal.
Sesuatu yang abnormal bisa di lihat dari kriteria-kriteria di bawah ini.

Statistika (Mayoritas, Minoritas)
Berdasarkan statistik perspektif ini bekerja, dimana semua variabel yang  di lihat didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Orang-orang normal atau kebanyakan orang berada pada bagian tengah dengan prosentase yang besar (80%), sedangkan untuk yang abnormal berada pada ujung masing-masing kurva dengan prosentase kecil (10%).

Tidak semestinya
Perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi bahgia (misalnya ditunjukkan dengan tersenyum, melompat dan tertawa) ketika berada di tengah-tengah suasana yang sedih. Respon tersebut merupakan hal yang tidak di kehendaki atau tidak semestinya.

Melanggar Norma
Perilaku abnormal ditentukan dengan menyesuaikan perilaku dengan norma yang ada di masyarakat. Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal.

Mengganggu individu (distress)
Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan atau distres dan gangguan bagi individu yang mengalami. Contoh, apabila seseorang memiliki keunikan tersendiri tidak seperti rata-rata orang, misal sangat suka mencuci tangan lebih dari orang lain, tetapi yang bersangkutan tidak terganggu, maka perilakunya masih bisa dikatakan normal.

Disabilitas
Disabilitas merupakan kekurangan pada beberapa penting dalam kehidupan. Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya.Misal: disabilitas dalam hubungan perkawinan, disabilitas dalam hubungan sosial, disabilitas dalam pekerjaan, dsb.

Kaitannya dengan Konsep Motivasi
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
                Bila kita mengacu pada kriteria abnormal diatas, motivasi akan menjadi sesuatu yang abnormal ketika orang yang hidup dengan motivasi tinggal bersama sejumlah orang yang hidup dengan apa adanya tanpa tujuan.  Motivasi juga bisa disebut abnormal bila motivasi itu merupakan motivasi yang destruktif. Bila kembali dalam masa penjajahan Belanda dulu, sebenarnya motivasi mereka datang ke Indonesia awalnya hanyalah untuk berdagang tetapi melihat potensi Indonesia yang begitu besar akan mereka termotivasi untuk menguasai Indonesia.
                Setiap orang sangat perlu memiliki tujuan dalam hidup dengan begitu akan ada motivasi yang muncul, karena akar dari motivasi adalah impian atau ada hal yang ingin dicapai. Keinginan yang kuat akan suatu hal sangat penting tetapi perlu dilihat juga apakah motivasi itu merugikan atau memberi manfaat untuk orang banyak. Ketika motivasi lebih banyak memberikan kerugian bagi orang banyak sebaiknya harus segera dikoreksi oleh diri kita sendiri karena kita yang memiliki pikiran sendiri.
                Motivasi yang abnormal bisa dilihat dari dua sisi yang berbeda, pada sisi positif adalah ketika seseorang bersifat oportunistik, memulai sesuatu yang baru ketika orang lain sudah nyaman dengan keadaan yang ada (stagnan). Pada sisi negatif adalah ketika seseorang termotivasi untuk mencapai tujuan dengan segala cara termasuk dengan merugikan orang lain.

Kaitannya dengan Stress
Stress merupkan sebuah gangguan yang menekan seseorang dan membuat rasa tidak enak dalam pikiran dan hati. Stress bisa memberikan efek secara fiosiologis biologis (psikosomatis), ketika seseorang sedang cemas akan lulus atau tidaknya dia dari ujian ketika itu juga ia merasa lambungnya sakit sekali, hal ini terjadi karena rasa cemas di otak menginduksi lambung agar menyekresikan cairan asam dan terjadi adalah terlalu banyaknya cairan asam dalam lambung yang bisa membuat luka pada dinding lambung. Seperti yang ada pada kriteria di atas, perilaku abnormal bisa menjadi gangguan pada seseorang apabila individu tersebut merasa terganggu, bila tidak merasa terganggu berarti normal.
Bentuk tubuh yang abnormal bisa juga jadi dasar seseorang menjadi stress ketika dia tidak bisa menerima pemberian dari Allah SWT. Karena sesungguhnya kunci kebahagiaan ada pada rasa syukur kita atas pemberian-Nya, bukan harta bukan uang. Ketika seseorang memiliki abnormalitas pada panca inderanya juga bisa menjadi dasar stress, sama seperti di atas. Berbeda dari yang lain seharusnya tidak menjadikan seseorang menjadi lemah. Percaya atau tidak sebenarnya sesuatu yang istimewa adalah sesuatu yang sedikit dengan kata lain abnormal. Itu lah yang harus di jadikan sandar untuk keluar dari stress yang sering datang.

Kaitannya dengan Gender
                Abnormalitas gender seperti waria dan tomboy, karena seharusnya lelaki berperan sebagai lelaki dan perempuan berperan sebagai perempuan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sebenarnya ini terjadi karena banyak dari  mereka tidak mengerti akan peran mereka, yang bila di usut juga mungkin karena pendidikan keluarga yang menghendaki terlalu menginginkan anak laki-laki atau perempuan sehingga mempengaruhi pendidikan yang diberikan, lingkungan yang terlalu menghendaki sikap sebagai peria atau wanita, dan juga karena tidak bersuykur atas pemberian yang dikan-Nya.
                Benang merah antara abnormalitas dengan gender jelas pada objeknya yaitu waria (pria yang seperti wanita) dan tomboy (wanita yang seperti pria) karena bila dirujuk sesuai dengan kriteria abnormal diatas, mereka masuk dalam kelompok minoritas, yang jumlahnya sedikit. Bila tidatanya melanggar norma atau tidak tentu melanggar bila ia adalah seorang muslim, karena islam hanya mengenal Pria saja dan wanita saja. Tetapi bila dilihat berdasarkan mengganggu (stress) atau tidak mungkin nilai nya bisa menjadi relatif karena semua itu bergantung pada kemauan individu tersebut.

Referensi:
 http://kamusbahasaindonesia.org/abnormal#ixzz2Y20DQV6B, di akses terakhir tanggal 4 Juli 2013
http://tyanisa12.blogspot.com/2012/02/pengertian-dan-ciri-ciri-psikologi.html, di akses terakhir tanggal 4 Juli 2013
http://indonesiapsikologi.blogspot.com, diakses terakhir tanggal 4 Juli 2013


Senin, 13 Mei 2013

Kepribadian Sehat : Carl Rogers



                Rogers yang memiliki nama lengkap Carl Rogers merupakan seorang ahli dalam bidang psikologi dalam pandangannya pada aliran Humanistik. Rogers mendapat gelar Ph. D.-nya dari Columbia University Teachers College pada tahun 1931 dan terus menjadi terkenal dalam mengembangkan non-directive atau client-centered therapy. Pendekatan Rogers terhadap terapi dan model kepribadian sehat yang dihasilkannya, memberikan suatu gambaran tentang kodrat manusia yang disanjung-sanjung dan optimistis. Tema pokoknya adalah suatu refleksi tentang apa yang dipelajarinya tentang dirinya pada usia 20 tahun: bahwa seseorang harus bersandar pada pengalamannya sendiri tentang dunia karena hanya itulah kenyataan yang dapat diketahui oleh seorang individu.

                Pendekatan Roger : Kepribadian
                Seperti yang telah diungkap di atas. Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama pada klien, bukan pada ahli terapi. Karena itu disebut  “terapi yang berpusat pada klien” (client-centered therapy). Jelas, metode ini menganggap bahwa indovidu yang terganggu memiliki suatu tingkat kemampuan dan kesadaran tertentu dan mengatakan kepada kita banyak tentang pandangan Rogers mengenai kodrat manusia. Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan (toilet training), penyapihan yang lebih cepat, atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Hal-hal ini tidak mengutuk kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat dikontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting daripada masa lampau. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara pandang kita  pada masa sekarang.
                Motivasi Orang yang Sehat : Aktualisasi
                Rogers meletakkan suatu dorongan – “suatu kebutuhan fundamental” – dalam sistemnya tentang kepribadian: memelihara, mengaktualisasikan, dan meningkatkan semua segi individu. Semua kecenndrungan ini dibawa sejak lahir yang meliputi komponen fiosiologis dan psikologis, yang mana pada awalnya fisiologis cenderung lebih dominan. Pertumbuhan dan perkembangan manusia sangat berkaitan dengan aktualisasi ini. Pada tingkat rendah, aktualisasi lebih mengena pada kebutuhna fisiologis dasar akan makanan, air dan udara. Karena itu kecendrungan aktualisasi itu memungkinkan organism hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan-kebutuhan jasmani dasar.
                Akan tetapi tidak terpaku pada pengertian sempit diatas. Aktualisasi sebenarnya jauh lebih luas dan kompleks. Dapat diambil contoh begini; Roger membandingkan perjuangan dan rasa sakit yang terjadi ketika seorang anak belajar berjalan. Anak itu tersandung dan jatuh serta merasa sakit. Akan lebih mudah dan kurang merasa sakit kalau tidak berusaha untuk berdiri dan belajar berjalan. Walaupun demikian anak itu masih terus berusaha dan akhirnya berhasil. Apa sebabnya anak itu pantang mundur ? Rogers berpendapat bahwa kecendrungan untuk aktualisasi sebagaitenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan perjuangan serta setiap dorongan yang ikut menghentikan usaha untuk berkembang.
                Ketiika seseorang bertambah besar, maka “diri” pun mulai berkembang. Pada saat itu pun aktualisasi yang berupa tekanan fisiologis berubah perlahan menjadi psikologis secara bertahap. Masa dimana aktualisasi fisiologis telah mencapai puncaknya, maka perkembangan aktualisasi selanjutnya adalah aktualisasi psikologis yang lebih kompleks.  Aktualisasi diri adalah prosese menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi psikologisnya yang unik. Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan bahwa hasil ciptaan yang sangat penting adalah diri orang itu sendiri.

                Perkembangan “ Diri “
                Anak anak mulai bisa membedakan antara segi pengalaman yang ada pada dirinya dan orang lain. Segi ini dinamakan, yang digambarkan dengan bertambahnya kata “aku” atau “milikku”. Anak membedakan antara apa yang menjadi miliknya  atau bagian dirinya dengan benda lain yang ia inderai dan ketika dia mampu membentuk suatu kesan atau gambaran tentang dirinya, anak itu mengembangkan suatu “self-concept”.
                Cara bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kanak-kanaknya. Pada saat awal perkembangan anak, anak belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebutnya dengan positive regards. Positive regards merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting dan dimiliki oleh setiap manusia; setiap anak terdorong untuk mencari positive regards ini. Anak puas bila mendapat kasih saying dan cinta yang cukup tetapi bagaimanakah dengan anak yang kekurangan kasih saying dan cinta ? Apakah anak itu akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak sehat ? semuanya bergantung pada sejauh manakah positive regards ini dipuaskan dengan baik.
                Self concept yang berkembang sangat erat pengaruhnya dengan sosok ibu. Sejauh manakah sang ibu memberikan positive regards ini pada anaknya ? Apabila Ibu menolak dan selalu mencela anaknya, anak akan berusaha  merencanakan tingkah lakunya sesuai dengan apa yang diharapkan ibunya tersebut, berarti anak mengharapkan bimbingan tingkah lakunya dari oranglain, bukan dari dirinya sendiri. Karena anak telah kecewa atas penolakan dan celaan kebutuhan akan positive regards menjadi semakin besar, jadi anak itu harus kerja keras untuk mendapat positive regards dengan mengorbankan aktualisasi dirinya. Dalam situasi ini kemungkinan anak akan melakaukan yang disebut dengan conditional positive regards yaitu  syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Dalam bahasa sederhana, anak akan mendapat cinta dan kasih saying bila berperilaku sesuai apa yang diinginkan orang tuanya, dan ini membatasi aktualisasi diri anak tersebut dan membuatnya resah dan cemas yang masuk dalam kesemuan kasih sayang. Sedangkan Unconditional positive regards adalah penghargaan positif tanpa syarat. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih saying tanpa memperhatikan bagaimana anak beringkah laku. Cinta da kasih saying diberikan secara bebas. Namun tidak berarti bahwa anak diperbolehkan melakukan apa saja yang diinginkan tanpa dinasehati.

                Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
                Maksudnya adalah orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh tanpa adanya hambatan dan bisa terus maju hingga tujuan akhir. Disini ada lima sifat orang yang berfungsi secara penuh menurut Rogers.
1.       Keterbukaan pada pengalaman
Seseorang yang tidak terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tak satu pun yang harus dilawan karena tak satu pun mengancam. Jadi, keterbukaan terhadap pengalaman adalh lawan dari sikap defensive.
2.       Kehidupan Eksistensial
Kehodupan yang berawal dari sebuah keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman, tidak memiliki diri yang berprasangka atau tegar, tidak harus mengontrol diri atau memanipulasi diri sehingga dengan bebas dapat berpartisipasi.
3.       Kepercayaan Terhadap Diri
Rogers telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik lebih dapat dipercaya daripada pikiran. Ini berarti Rogers lebih mengutamakan perasaan dibandingkan dengan rasionalitas.
4.       Perasaan Bebas
Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, maka semakin bebas ia dalam memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan antara alternatif.
5.       Kreativitas
Oang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan social dan cultural.

Sumber :
Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan: model-model kepribadian sehat. Yogyakarta: Kanisius