HTML/JS

Senin, 13 Mei 2013

Kepribadian Sehat : Carl Rogers



                Rogers yang memiliki nama lengkap Carl Rogers merupakan seorang ahli dalam bidang psikologi dalam pandangannya pada aliran Humanistik. Rogers mendapat gelar Ph. D.-nya dari Columbia University Teachers College pada tahun 1931 dan terus menjadi terkenal dalam mengembangkan non-directive atau client-centered therapy. Pendekatan Rogers terhadap terapi dan model kepribadian sehat yang dihasilkannya, memberikan suatu gambaran tentang kodrat manusia yang disanjung-sanjung dan optimistis. Tema pokoknya adalah suatu refleksi tentang apa yang dipelajarinya tentang dirinya pada usia 20 tahun: bahwa seseorang harus bersandar pada pengalamannya sendiri tentang dunia karena hanya itulah kenyataan yang dapat diketahui oleh seorang individu.

                Pendekatan Roger : Kepribadian
                Seperti yang telah diungkap di atas. Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama pada klien, bukan pada ahli terapi. Karena itu disebut  “terapi yang berpusat pada klien” (client-centered therapy). Jelas, metode ini menganggap bahwa indovidu yang terganggu memiliki suatu tingkat kemampuan dan kesadaran tertentu dan mengatakan kepada kita banyak tentang pandangan Rogers mengenai kodrat manusia. Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan (toilet training), penyapihan yang lebih cepat, atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Hal-hal ini tidak mengutuk kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat dikontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting daripada masa lampau. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara pandang kita  pada masa sekarang.
                Motivasi Orang yang Sehat : Aktualisasi
                Rogers meletakkan suatu dorongan – “suatu kebutuhan fundamental” – dalam sistemnya tentang kepribadian: memelihara, mengaktualisasikan, dan meningkatkan semua segi individu. Semua kecenndrungan ini dibawa sejak lahir yang meliputi komponen fiosiologis dan psikologis, yang mana pada awalnya fisiologis cenderung lebih dominan. Pertumbuhan dan perkembangan manusia sangat berkaitan dengan aktualisasi ini. Pada tingkat rendah, aktualisasi lebih mengena pada kebutuhna fisiologis dasar akan makanan, air dan udara. Karena itu kecendrungan aktualisasi itu memungkinkan organism hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan-kebutuhan jasmani dasar.
                Akan tetapi tidak terpaku pada pengertian sempit diatas. Aktualisasi sebenarnya jauh lebih luas dan kompleks. Dapat diambil contoh begini; Roger membandingkan perjuangan dan rasa sakit yang terjadi ketika seorang anak belajar berjalan. Anak itu tersandung dan jatuh serta merasa sakit. Akan lebih mudah dan kurang merasa sakit kalau tidak berusaha untuk berdiri dan belajar berjalan. Walaupun demikian anak itu masih terus berusaha dan akhirnya berhasil. Apa sebabnya anak itu pantang mundur ? Rogers berpendapat bahwa kecendrungan untuk aktualisasi sebagaitenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan perjuangan serta setiap dorongan yang ikut menghentikan usaha untuk berkembang.
                Ketiika seseorang bertambah besar, maka “diri” pun mulai berkembang. Pada saat itu pun aktualisasi yang berupa tekanan fisiologis berubah perlahan menjadi psikologis secara bertahap. Masa dimana aktualisasi fisiologis telah mencapai puncaknya, maka perkembangan aktualisasi selanjutnya adalah aktualisasi psikologis yang lebih kompleks.  Aktualisasi diri adalah prosese menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi psikologisnya yang unik. Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan bahwa hasil ciptaan yang sangat penting adalah diri orang itu sendiri.

                Perkembangan “ Diri “
                Anak anak mulai bisa membedakan antara segi pengalaman yang ada pada dirinya dan orang lain. Segi ini dinamakan, yang digambarkan dengan bertambahnya kata “aku” atau “milikku”. Anak membedakan antara apa yang menjadi miliknya  atau bagian dirinya dengan benda lain yang ia inderai dan ketika dia mampu membentuk suatu kesan atau gambaran tentang dirinya, anak itu mengembangkan suatu “self-concept”.
                Cara bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kanak-kanaknya. Pada saat awal perkembangan anak, anak belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebutnya dengan positive regards. Positive regards merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting dan dimiliki oleh setiap manusia; setiap anak terdorong untuk mencari positive regards ini. Anak puas bila mendapat kasih saying dan cinta yang cukup tetapi bagaimanakah dengan anak yang kekurangan kasih saying dan cinta ? Apakah anak itu akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak sehat ? semuanya bergantung pada sejauh manakah positive regards ini dipuaskan dengan baik.
                Self concept yang berkembang sangat erat pengaruhnya dengan sosok ibu. Sejauh manakah sang ibu memberikan positive regards ini pada anaknya ? Apabila Ibu menolak dan selalu mencela anaknya, anak akan berusaha  merencanakan tingkah lakunya sesuai dengan apa yang diharapkan ibunya tersebut, berarti anak mengharapkan bimbingan tingkah lakunya dari oranglain, bukan dari dirinya sendiri. Karena anak telah kecewa atas penolakan dan celaan kebutuhan akan positive regards menjadi semakin besar, jadi anak itu harus kerja keras untuk mendapat positive regards dengan mengorbankan aktualisasi dirinya. Dalam situasi ini kemungkinan anak akan melakaukan yang disebut dengan conditional positive regards yaitu  syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Dalam bahasa sederhana, anak akan mendapat cinta dan kasih saying bila berperilaku sesuai apa yang diinginkan orang tuanya, dan ini membatasi aktualisasi diri anak tersebut dan membuatnya resah dan cemas yang masuk dalam kesemuan kasih sayang. Sedangkan Unconditional positive regards adalah penghargaan positif tanpa syarat. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih saying tanpa memperhatikan bagaimana anak beringkah laku. Cinta da kasih saying diberikan secara bebas. Namun tidak berarti bahwa anak diperbolehkan melakukan apa saja yang diinginkan tanpa dinasehati.

                Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
                Maksudnya adalah orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh tanpa adanya hambatan dan bisa terus maju hingga tujuan akhir. Disini ada lima sifat orang yang berfungsi secara penuh menurut Rogers.
1.       Keterbukaan pada pengalaman
Seseorang yang tidak terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tak satu pun yang harus dilawan karena tak satu pun mengancam. Jadi, keterbukaan terhadap pengalaman adalh lawan dari sikap defensive.
2.       Kehidupan Eksistensial
Kehodupan yang berawal dari sebuah keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman, tidak memiliki diri yang berprasangka atau tegar, tidak harus mengontrol diri atau memanipulasi diri sehingga dengan bebas dapat berpartisipasi.
3.       Kepercayaan Terhadap Diri
Rogers telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik lebih dapat dipercaya daripada pikiran. Ini berarti Rogers lebih mengutamakan perasaan dibandingkan dengan rasionalitas.
4.       Perasaan Bebas
Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, maka semakin bebas ia dalam memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan antara alternatif.
5.       Kreativitas
Oang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan social dan cultural.

Sumber :
Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan: model-model kepribadian sehat. Yogyakarta: Kanisius

Minggu, 21 April 2013

Kepribadian (Konsep Manusia) : Psikoanalisis, Behaviorisme dan Humanistik



                Apakah itu kepribadian ? Pertanyaan-pertanyaan ini terus-menerus ditanyakan bukan hanya oleh ahli-ahli psikologi, tetapi juga oleh berjuta-juta orang lain. Istilah kepribadian dalam bahasa Inggris personality berasal dari kata latin “ persona ” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain.
                Banyak ahli percaya bahwa penelitian tentang kepribadian yang sehat akan menjadi fokus utama psikologi. Disiplin ilmu lain manakah yang meneliti kondisi manusia ? Apakah ada sesuatu yang lebih kuat dalam mengubah dunia ke arah yang lebih baik atau sakit selain kepribadian manusia. Apakah yang lebih berpengaruh terhadap hakikat kehidupan kita selain tingkat kesehatan psikologis yang kita miliki untuk berhubungan dengan masalah-masalah kita ?
                Abraham maslow menyatakan masalah itu dengan jelas. " Apabila anda dengan sengaja merencanakan untuk menjadi kurang daripada kemampuan anda, maka saya memperingatkan bahwa anda tidak akan berbahagia dalam kehidupan anda selanjutnya. "

Psikoanalisis
                Sigmund Freud merupakan bapak dari aliran psikologi psikoanalisis. Freud menganggap kesadaran manusia hanya merupakan sebagian kecil saja daripada seluruh kehidupan psikis; Freud memisalkan psyche (keadaan psikis manusia)  itu sebagai gunung es di tengah lautan, yang ada di atas permukaan  air laut itu menggambarkan kesadaran, sedangkan di bawah permukaan air laut yang merupakan bagian terbesar menggambarkan ketidaksadaran. Di dalam ketidaksadaran itulah  terdapat kekuatan-kekuatan dasar yang mendorong pribadi.

Menurut Freud kepribadian teridiri atas tiga aspek yaitu :
1.            Das Es  (the id), yaitu aspek biologis,
2.            Das Ich (the ego), yaitu aspek psikologis,
3.            Das Ueber Ich (the super ego), yaitu aspek sosiologis.

                Das Es (Id)
       Das Es atau dalam bahasa inggris the id disebut juga  oleh Freud  System der Unbewussten. Aspek ini adalah aspek biologis yang berdasar pada prinsip kenikmatan (the pleasure principle). Id tidak langsung terhubung dengan dunia objektif melainkan, id merupakan dunia batin atau subyektif manusia.  Id memiliki dua proses untuk mencapai kenikmatan atau melepas ketidakenakan yaitu :
·          Refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti bersin, berkedip, menguap dan sebagainya.
·         Proses primer, seperti orang lapar membayangkan makan (wish fullfillment).
Tetapi perlu dicatat bahwa kerja Id hanya terbatas pada dunia subyektif manusia, seperti contoh di atas. Manusia bila lapar akan membayangkan makan, hanya sebatas membayangkan dan yang akan menggerakkan tubuh nanti adalah das ich ( Ego ).

                Das Ich (Ego)
                Das Ich atau dalam bahasa inggris the ego disebut juga  oleh Freud  System der Bewussten-Vorbewussten. Aspek ini adalah aspek psikologis dari kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan kenyataan (Realitat). Ego berdasar pada prinsip kenyataan (the reality principle) dan berpikir dengan proses sekunder (secondary process). Berpikir sekunder adalh proses berpikir realistis; dengan mempergunakan proses sekunder Ego merumuskan suatua rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya atau men-test-nya (biasanya dengan suatua tindakan) untuk mengetahui apakah rencana itu  berhasil atau tidak. Misalnya: Oranglapar merencanakan di mana dia dapat makan, lalu pergi ketempat tersebut untuk mengetahui apakah rencana tersebut berhasil (cocok dengan realitas) atau tidak. Perbuatan ini disebut reality testing.
                Selain berfungsi sebagaimana yang sudah dijelaskan, Ego juga berfungsi sebagai jembatan antara Id dan Super Ego agar dapat menyalurkan apa yang menjadi keinginan dari keduanya.

                Das Ueber ich (Super Ego)
                Das ueber ich atau Super Ego adalah aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagai mana ditafsirkan orang tu ake pada anaknya, yang diajarkan dengan berbagai perintah dan larangan. Super ego dianggap juga sebagai aspek moral kepribadian karena fungsinya yang pokok ialah menentukan sesuatu apakah benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak.
Fungsi pokok Super Ego dapat di lihat dalam hubungan dengan ketiga aspek kepribadian Freud, yaitu :
·         Merintangi impuls-impuls Id, terutama impuls seksual dan agresif yang pernyataannya sangat di tentang oleh masyarakat.
·         Mendorong Ego untuk lebih mengejar hal-hal moralistis daripada yang realistis.
·         Mengejar kesempurnaan

                Berdasarkan dinamika kepribadian konsep manusia juga di bentuk atas dasar instink menuru Freud, instink hidup dan instink mati.
Instink adalah sumber perangsan somatis dalam yang di bawa sejak lahir, yaitu perangsang psikologis  (keinginan) dan perangsang jasmani (kebutuhan). Jadi, misalnya seorang yang lapar secara jasmani kekurangan makanan dan butuh makan sedangkan secara psikologis sebagai keinginan akan makanan. keinginan itu menjadi alasan (motif) tingkah laku.
Empat sifat instink :
·         Sumber, yang menjadi sumber instink yaitu kondisi jasmaniah, jadi kebutuhan.
·         Tujuan, tujuan instink adalah menghilangkan rangsangan kejasmanian, sehingga ketidakenakan yang timbul karena adanya ketegangan dapat ditiadakan. Misal : Instink lapar ialah menghilangkan keadaan kekurangan makanan, dengan cara makan.
·         Obyek instink, Segala aktivitas yang mengantarai keinginan dan terpenuhinya keinginan itu. tidak terbatas hanya pada bendanya saja, tetapi juga terasuk pula cara-cara memenuhi kebutuhan itu.
·         Pendorong, kekuatan instink yang tergantung pada besar-kecilnya kebutuhan.

Instink hidup ialah melayani maksud individu  untuk tetap hidup dan memperpanjang ras. bentuk utama instink ini adalah instink makan, minum dan seksual. bentuk energi yang di pakai instink hidup disebut " libido ".
Instink mati disebut juga instink merusak, instink ini  berfungsinya kurang jelas bila dibandingkan dengan instink hidup, karena tidak begitu dikenal. Akan tetapi  adalah suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa tiap orang itu pada akhirnya akan mati juga. ini lah yang menyebabkan Freud merumuskan bahwa " Tujuan semua hidup adalah mati ".

Behaviorisme
          Aliran ini adalah salah satu aliran dalam psikologi yang berkembang pesat pada tahun 1950-an. Tokoh dari behaviorisme ini antara lain, Juan Petrovich Pavlov, Edward Lee Thorndike, Burrhus Frederick Skinner dan John B. Watson. Secara general pandangan ahli-ahli di atas berpendapat bahwa organisme belajar berdasarkan dua unsur yaitu adanya stimulus dan respon. Perlu di catat bahwa behaviorisme hanya berfokus pada perilaku yang “tampak” dan mereduksi sistem kognitif yang ada pada organisme tersebut.
Juan Petrovich Pavlov
Merupakan seorang ahli dalam aliran behaviorisme yang menekankan pentingnya objektivitas, yaitu yang dapat di diobservasi secara nyata, karena menurut mereka kesadaran tidak dapat diobservasi secara langsung. Pavlov menolak metode introspeksi karena tidak dapat diperoleh data yang objektif. Oleh karena itu ia mendasarkan eksperimennya pada keadaan yang benar-benar dapat diobservasi.
Pavlov dalam eksperimennya menggunakan anjing sebagai binatang percobaan. Anjing dioperasi sedemikian rupa, sehingga apabila air liur keluar dapat dilihat dan dapat di tampung daam tepat yang telah disediakan. Apabila anjing lapar dan melihat makanan, kemudian mengeluarkan air liur, ini merupakan respon yang alami, yang oleh Pavlov disebut respons tak terkondisikan (unconditioned response) yang disingkat UCR. Apabila anjing mendengar bel dan kemudian menggerakkan telinganya, ni merupakan respon alami. Bel sebagai stimulus yang tak terkondisikan (unconditioned stimulus). Persoalan yang dipikirkan Pavlov adalah apakah dapat di bentuk apada anjing suatu bentuk perilaku respon apabila anjing mendengar bunyi bel lalu anjing akan mengeluarkan air liur. Hal inilah kemudian yang menjadi bahan penelitian Pavlov secara eksperimental. Ternyata perilaku tersebut dapat dibentuk dengan cara memberikan stimulus yang tak terkondisikan (unconditioned stimulus) atau UCS yaitu makanan berbarengan dengan diberikan stimulus yang alami yaitu bunyi bel.Makanan yang diberikan bersamaan dengan bunyi bel menjadi (conditioned stimulus) mnyebabkan tmbulnya respon berkondisi (conditioned response) yaitu keluarnya air liur. Setelah hal tersebut diberikan berulang-ulang kali air liur tetap keluar sekalipun makanan tidak diberikan.
Pavlov juga mengatakan bahwa penguatan (reinforcement) adalah cara yang digunakan untuk memperkuat kaitan antara stimulus dan respon yang sudah dikondisikan. Sedangkan pemadaman atau penghapusan (Extinction) adalah cara untuk menghilangkan respon yang sudah di kondisikan agar menjadi respon yang normal kembali atau alami.
Edward Lee Thorndike
                Thorndike merupakan tokoh yang mengadakan penelitian mengenai animal psychology. Penelitian Thorndike terhadap tingkah laku binatang mencerminkan prinsip dasar proses belajar yag dianut oleh Thorndike, yaitu bahwa dasar dari belajar ada asosiasi. Suatu stimulus (S) akan menimbulkan suatu respons (R) tertentu. Teori ini disebut dengan teori Stimulus-Response (S-R). Dalam teori S-R dikatakan bahwa dalam proses belajar, pertama kali organisme dengan cara coba-dan-salah (Trial and Error), maksudnya adalah organisme akan melakukan problem solving dengan mencoba-coba setiap cara hingga organisme tersebut mendapat cara terbaik yang akan digunakan sebagai problem solving tersebut.
                Dari Eksperimennya, Thorndike mengajukan tiga macam hukum yang sering dikenal sebagai hukum primer belajar, yaitu :
  • Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
    Organisme dituntut harus memiliki kesiapan sebelum ia memulai untuk belajar, karena dengan adanya kesiapan makan proses belajar akan lebih baik dan hasilnya pun baik.
  • Hukum Latihan (Law of Exercise)
    Hukum ini terbagi menjadi 2 yaitu, Law of Use dan Law of Disuse. Ada Law of Use yaitu hukum yang menyatakan bahwa Hubungan antara stimulus dan respons akan meningkat dan kuat apabila ada latihan atau sering digunakan. Law of Disuse yaitu hukum yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon akan menurun dan lemah apabila tidak dilatih atau tidak sering digunakan.
  • Hukum Efek (Law of effect)
    Hukum yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respons menjadi kuat atau lemah bergantung pada hasil yang menyenangkan atau tidak. Apabila suatu stimulus memberikan hasil yang menyenangkan atau memuaskan, makan hubungan keduanya akan menguat, sedangkan sebaliknya, bila hasilnya adalah buruk atau mengecewakan makan stimulus dan respon akan menurun. Reward akan meningkatkan hubungan antara S-R, dan punishment sebaliknya.
Burrhus Frederick Skinner
Untuk menjelaskan teorinya tentang operant conditioning. Skinner melakukan eksperimennya tentang tikus, berikut pemaparannya.

                Tikus dimasukkan ke dalam sebuah kotak yang dibuat khusus untuk percobaan ini. Tikus akan bergerak ke sana kemari dan apabila secara kebetulan tikus menginjak tombol, maka makanan akan keluar (makanan merupakan stimulus tak terkondisikan/UCS). Setelah percobaan ini beberapa kali diulang, tikus akan tahu bahwa dengan menekan tombol, makanan akan keluar. Maka tikus akan menekan tombol apabila memerlukan makanan. Tingkah lau menekan tombol tersebut merupakan tingkah laku operant (respons tak terkondisikan). Makanan disini merupakan reward dari tngkah laku menekan tombol. Percobaan selanjutnya makanan akan diberikan apabila lampu menyala. Selanjutnya kalau lampu tidak menyala, walaupun tombol ditekan makanan tidak diberikan. Sekarang tikus dapat membedakan kapan akan menekan tombol dan kapan tidak. Disini lampu enjadi stimtioulus diskriminasi.
Menurut Skinner terdapat dua prinsip umum yang berkaitan dengan operant conditioning, yaitu:
·         Setiap respons yang diikuti oleh reward akan cendrung diulangi.
·         Reward akan meningkatkan kecepatan terjadinya respon.

Humanistik
                Abraham Maslow dapat dianggap sebagai bapak psikologi humanistik. Gerakan ini merasa tidak puas terhadap psikologi behavioristik dan psikoanalisis, dan memokuskan penelitiannya pada manusia dengan ciri-ciri eksistensinya.
                Psikologi behavioristik mendehumanisasi manusia menurut para tokoh-tokoh psikologi humanistik. Psikologi mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan pada keunikan manusia.Menurut psikologi humanistik manusia adalah makhluk yang kreatif, yang dikendalikan oleh pilihan-pilihannya dan nilai nilainya sendiri. Bukan oelh kekuata ketidaksadaran.
                Maslo mengenalkan teori motivasi, Manusia memiliki 5 macam kebutuhan yang hierarki, meliputi :
1.       Kebutuhan fisiologi
2.       Kebutuhan rasa aman
3.       Kebutuhan rasa cinta dan memiliki
4.       Kebuthan akan penghargaan
5.       Kebutuhan akan aktualisasi diri
Menurut Maslow psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya paa masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi harus mempelajari kedalaman sifat manusia, selain mempelajari yang nampak, juga mempelajari perilaku yang tidak nampak; mempelajari ketidaksadaran sekaligus mempelajari kesadaran.
Ada empat ciri psikologi yang beroirentasi humanistik, yaitu :
· Memusatkan perhatian pada person yang mengalami, dan karenanya berfokus pada pengalaman sebagai fenomena primer dalam mempelajari manusia.
·    Memberi tekanan pada kualitas-kualitas yang khas, seperti kreativitas, aktualisasi diri.
·    Menyadarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah-masaah yang akan dipelajari dan prosedur-prosedur penelitian yang akan digunakan.
·    Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilaiyang tinggi pada kemuliaandan martabat manusia.

Sumber :
1. Suryabrata, Sumadi. 2008. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Press
2. Basuki, A.M. Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma

Kamis, 07 Maret 2013

Definisi Sehat


Setiap manusia di dunia ini pasti menginginkan yang namanya sehat, tidak peduli apakah dia anak kecil, remaja, orang dewasa, lansia, orang asia, afrika, eropa. Kenapa demikian ? karena dengan sehat mereka dapat hidup bahagia tanpa rasa sakit dan bisa melakukan aktivitasnya dengan maksimal dan sempurna. Perlu dicatat juga bahwa kriteria sehat dalam tiap budaya dan disiplin ilmu berbeda-beda. Bidang kedokteran lebih menilai sehat hanya secara jasmani saja. Namun dalam perspektif psikologi sehat bukan hanya terpaku pada keadaan jasmaniah ( yang terlihat ) tetapi juga pada keadaan mentalnya ( yang tidak terlihat ) yaitu bagaimana dia berperilaku, berpikir, memersepsi lingkungan sekitarnya. Karena Psikolog percaya bahwa ada kaitan antara keadaan jasmaniah dan keadaan psikis yang saling berinteraksi.


Bila merunut pada UU No.23 Tahun 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa :
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur – unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Berdasarkan undang-undang diatas bisa dilihat secara garis besar sehat adalah sesuatu yang positif dan tidak dapat di lihat hanya pada satu sudut pandang saja.

Selanjutnya konsep sehat, yang dikemukakan menurut WHO (World Health Organization) tahun 1948  menyebutkan bahwa kesehatan adalah sebagai “suatu keadaan fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”.
Pada tahun 1986, WHO dalam Piagam Ottawa untuk promosi kesehatan, mengatakan bahwa pengertian kesehatan adalah "sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan hidup Kesehatan adalah konsep positif menekankan sumber daya sosial dan pribadi, serta kemampuan fisik."

Sedangkan menurut Linda Ewles & Ina Simmet (1992), yang dikutip oleh A.E. Dumatubun dalam Jurnal Antropologi Papua 2002, seperti berikut :
1)      Konsep sehat dilihat dari segi jasmani yaitu dimensi sehat yang paling nyata karena perhatiannya pada fungsi mekanisme tubuh.
2)    Konsep sehat dilihat dari segi mental, yaitu kemampuan berpikir dengan jernih dan koheren. Istilah mental dibedakan dengan emosional dan sosial walaupun ada hubungan yang dekat diantara ketiganya.
3)    Konsep sehat dilihat dari segi emosional yaitu kemampuan untuk mengenal emosi seperti takut, kenikmatan, kedukaan, dan kemarahan, dan untuk mengekspresikan emosi-emosi secara cepat.
4)      Konsep sehat dilihat dari segi sosial berarti kemampuan untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain.
5)      Konsep sehat dilihat dari aspek spiritual yang berkaitan dengan kepercayaan dan praktek keagamaa, berkaitan dengan perbuatan baik, secara pribadi, prinsip-prinsip tingkah laku, dan cara mencapai kedamaian dan merasa damai dalam kesendirian.
6)     Konsep sehat dilihat dari segi societal yaitu berkaitan dengan kesehatan pada tingkat individual ang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya yang melingkupi individu tersebut. Adalah tidak mungkin menjadi sehat  dalam masyarakat yang “sakit” yang tidak dapat menyediakan sumber-sumber untuk pemenuhan kebutuhan dasar  dan emosional. (Djekky,2001: 8)
Pandangan Linda Ewles & Ina Simmet ini sudah mulai memilah-milah arti kesehatan dalam beberapa kategori sehingga pandangan tentang sehat tidak sempit lagi.


Bisa saya ambil kesimpulan bahwa sehat adalah " suatu keadaan yang sejahtera dari unsur fisik, mental, sosial dan spiritual yang menjadikan individu tersebut merasa bahagia dan memiliki harga diri."

Source materi :
http://infodari.com/apa-arti-kesehatan-menurut-para-ahli/#ixzz2MuZMdBTx
http://yogapenta.blogspot.com/2011/02/konsep-sehat-sakit-menurut-depkes-ri.html