HTML/JS

Sabtu, 26 November 2011

Manusia dan Pandangan Hidup


Fajar Maulana
12511635
1PA09
    Pandangan hidup hakikatnya adalah sesuatu pemikiran atau pertimbangan yang menjadi pedoman atau patokan seseorang dalam menjalankan kehidupan. Pemikiran atau pertimbangan tersebut didapatkan berdasarkan pengalaman hidupya. Individu tersebut belajar dari orang-orang di dekatnya seperti orang tua dan lingkungan tempat Ia tinggal. Biasanya pandangan hidup dibarengi dengan pencarian jati diri. Bila seseorang belum menemukan jati dirinya biasanya Ia tidak mempunyai pandangan hidup, karena pandangan hidup bersifat relative yang didapat dari hasil perenungan individu tersebut, yang artinya setiap orang memiliki perbedaan cara berpikir atau mempertimbangkan sesuatu yang berdasarkan pada pandangannya masing-masing. Selain padangan hidup dari hasil perenungan, ada juga pandangan hidup berdasarkan pada agama dan ideologi yang dianut dan yakini. Pandangan hidup berdasarkan agama mungkin adalah suatu pandangan yang sudah pasti mutlak kebenarannya, karena kebenaran tersebut datangnya dari Tuhan. Sedangkan ideologi mungkn adalah suatu pandangan hidup yang di buat oleh manusia berdasarkan norma-norma, adat, kebiasaan dan cita-cita suatu tempat atau Negara.

    Pandangan hidup memiliki salah satu unsur, yaitu cita-cita atau impian. Cita-cita atau imipian merupakan titik dimana pandangan hidup meletakkan tujuannya. Dengan adanya cita-cita atau impian seseorang akan memiliki spirit dalam menjalankan kehidupanya. Untuk meraih cita-cita tidak dapat dilakukan hanya dengan mengkhayal, berharap dan berdoa saja, tetap juga perlu adanya usaha dalam pencapaiannya. Baik itu usaha yang kecil atau besar. Usaha menentukan apakah cita-cita tersebut dapat diraih sesuai dengan apa yang kita ingikan atau tidak. Semakin besar usaha yang kita lakukan akan semakin cepat dan besar pula cita-cita yang kita raih, tetapi semakin kecil usaha yang kita lakukan, maka akan semakin lama dan kecil juga peluang kita untuk medapatkan cita-cita yang kita inginkan. Sukses merupakan posisi dimana cita-cita dan impian kita mulai terwujud satu demi satu hingga semuanya terwujud. Mario Teguh mengemukakan bahwa, secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone kita dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi ini Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat pada diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari ini Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih banyak lagi, maka anda sukses.

    Segala sesuatu pasti mempunyai langkah-langkah dalam pencapaianya, begitu juga dengan pandangan hidup. Langkah-langkah pencapaian pandangan hidup yang baik yang pertama adalah mengenal.

Mengenal merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahapan pertama dari setiap aktivitas hidupnya yang dalam hal ini mengenal apa itu pandangan hidup. Tentunya kita yakin dan sadar bahwa setiap manusia mempunyai pandangan hidup, maka kita dapat memastikan bahwa pandangan hdup itu ada sejak manusia itu ada dan bahkan hidup itu ada sebelum manusia itu belum turun ke dunia. Adam dan hawalah yang dalam hal ini menjadi objek. Mereka merupakan manusia pertama dan berarti pula mereka mempunyai pandangan hidup yang digunakan pedoman dan yang member petunjuk kepada mereka.

Langkah kedua adalah mengerti. Mengerti disini dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Bila dalam bernegara kita berpandangan pada Pancasila, maka hendaknya kita mengerti apa Pancasila dan bagaimana mengatur kehidupan bernegara berdasar Pancasila. Begitu juga dengan berpandangan hidup sesuai agama Islam. Hendaknya kita mengerti apa itu Al-Qur’an, Hadist dan Ijma’ itu dan bagaimana ketiganya mengatur kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Langkah ketiga adalah Menghayati. Dengan menghayati pandangan hidup, kita memperoleh gambaran yang tepat dan benar mengaanai kebenaran pandangan hidup itu sendiri. Menghayati disini dapat diibaratkan  menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya, yaitu dengan memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai padangan hidup itu sendiri.

Langkah keempat adalah Meyakini merupakan suatu hal untuk cendrung memperoleh suatu kepastan sehingga dapat mencapai suatu tujuan hidupnya. Dengan meyakini berarti secara langsung ada penerimaan yang ikhlas terhadap pandangan hidup. Contohnya, Kita sebagai umat beragama yang beragama Islam yakin bahwa Allah SWT itu mempunyai sifat yang maha dari segala, yang diantaranya adalah Maha Mengetahui. Sifat Maha Mengetahui ini membuat orang yang meyakininya selalu berbuat baik. Dalam hal ini adalah keyakinan sebenar-benarnya. Akan tetapi dalam kasus tertentu ada pula orang yang walalupun meyakini, tetapi karena imannya tipis maka terpaksa melanggar ketentuannya.

Langkah kelima adalah Pengabdian. Pengabdian merupakan sua hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya, lebih-lebih oleh orang lain. Dengan mengabdi maka kita akan merasakan manfaatnya.

Sumber :
1.    http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ilmu_budaya_dasar/bab8-manusia_dan_pandangan_hidup.pdf
2.    http://whaysworld.wordpress.com/2011/06/10/manusia-dan-pandangan-hidup/

Senin, 21 November 2011

Manusia dan Keadilan

Fajar Maulana
1PA09
12511635

    Setiap manusia dalam kehidupannya pasti menginginkan keadilan. Baik keadilan hanya bagi dirinya maupu kelompoknya. Keadilan memiliki maksud inti yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Contoh, Seorang Mahasiswa diberi uang saku sebanyak Rp20.000 untuk sehari dan adiknya seorang pelajar SD pun sama di berikan Rp 2000 untuk sehari, tetapi bila si Mahasiswa diberi porsi uang saku yang sama dengan adiknya sebanyak Rp 20.000 ini merupakan ketidakadilan, karena kebutuhan seorang Mahasiswa lebih banyak dari pada kebutuhan pelajar SD.

Keadilan merupakan hal yang pokok agar terciptanya masyarakat yang teratur, rapih dan tertib. Tetapi dalam prosesnya terkadang keadilan dalam konteks yang lebih kompleks seperti dalam ranah pemerintahan mengabaikan keobjektifan dan hanya melihat dari subjektifitasnya saja. Para koruptor yang memakan uang rakyat ratusan juta, miliaran bahkan triliunan rupiah hanya mendapat hukuman  yang ringan bila dibandingkan dengan seorang pencuri pakaian dalam yang di hukum lebih berat dari pada koruptor. Hal ini sangat riskan, padahal sejatinya Indonesia merupkan Negara yang berlandaskan pada ideologi Pancasila yang hakikatnya merupakan dasar fundamental bagi bangsa Indonesia untuk menjalankan kehidupan bernegara. Apakah keadilan hanya ada bagi seorang yang berduit ?

    Pancasila dalam sila kelimanya menyebutkan, “ Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia “. Sila ini menjelaskan bahwa seluruh rakyat Indonesia berhak untuk mendapatkan keadilan tanpa mengenal kasta atau derajat sosial. Merupakan hal yang sangat penting untuk sebuah Negara memperlakukan rakyatnya secara adil. Bila melihat perjalanan bangsa Indonesia mulai dari masa Orde Lama hingga masa Reformasi sepertinya keadilan untuk rakyat Indonesia belum terpenuhi secukupnya. Contohnya, pada masa Orde Baru warga Tionghoa didiskriminasi dengan cara menyulitkan pelayanan administrasinya, seperti dalam pembuatan KTP, Akta kelahiran dan sebagainya. Namun setelah masuk masa Reformasi pendiskrimnasian tersebut sudah dihilangkan, karena pemerintah sekarang baru tersadar akan pentingnya keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia.

    Manusia tidak dapat dipisahkan dengan keadilan dan sebaliknya, karena tanpa keadilan kehidupan manusia akan penuh dengan permusuhan karena tidak adanya penempatan yang sesuai dengan tempatnya antara hak dan kewajiban masing-masing individu atau kelompok. Sebaliknya bila keadilan tanpa manusia, ini berarti keadilan bukan merupakan sesuatu. Tanpa adanya objek yang diadili keadilan bukan apa-apa. Keduanya saling berkaitan sangat erat sehingga pasti mulai dari keluarga hingga truktur organsasi terbesar (Negara) menerapkan keadilan.

    “ Keadilan pada dasarnya merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi setiap manusia dibumi ini dan tidak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan. Menurut Aristoteles, keadilan akan dapat terwujud jika hal – hal yang sama diperlakukan secara sama dan sebaliknya, hal – hal yang tidak semestinya diperlakukan tidak semestinya pula. Dimana keadilan memiliki cirri antara lain ; tidak memihak, seimbang dan melihat segalanya sesuai dengan proporsinya baik secara hak dan kewajiban dan sebanding dengan moralitas. Arti moralitas disini adalah sama antara perbuatan yang dilakukan dan ganjaran yang diterimanya. Dengan kata lain keadilan itu sendiri dapat bersifat hokum “ . (http://filsafat.kompasiana.com/2010/04/28/manusia-dan-keadilan/)

    Keadilan di tiap lini kehidupan secara detail akan melahirkan pribadi yang adil, karena dalam proses kehidupannya, individu tersebut merasakan apa yang namanya keadilan. Bila seorang anak di besarkan dengan ketidakadilan maka jangan salahkan si anak bila sudah besar nanti dia akan berprilaku tidak adil. Peranan orangtua dalam perkembangan anak sangat besar pengaruhnya selain lingkungan, bila semua anak di besarkan dengan keadilan maka percayalah Indonesia akan menjadi Negara yang adil nantinya.

    Keadilan mempunyai akar yang kuat dengan HAM, karena HAM bagi sebagian orang merupakan tolok ukur paling tinggi untuk menilai apakah orang tersebut sudah mendapatkan keadilan atau belum. Namun mungkin karena mereka terlalu fanatic dengan penilaian ini, mereka seakan lupa dengan pentingnya kewajiban serta pentingnya tidak memotong hak orang lain. Kebanyakan orang hanya menuntut haknya tetapi melupakan kewajibannya, kemudian bila haknya tidak terpenuhi mereka akan menyerobotkan orang lain sebagai penggantinya. Kesemrawutan ini merupakan salah satu efek dari ketidakadilan.

    Kesimpulannya mungkin, “ Tidak ada keadilan absolute atau paling benar, keadilan yang paling benar hanya dimilik oleh Nya. Jangan mencoba untuk mengadili orang lain bila kalian belum adil terhadap diri sendri. “