HTML/JS

Senin, 13 Mei 2013

Kepribadian Sehat : Carl Rogers



                Rogers yang memiliki nama lengkap Carl Rogers merupakan seorang ahli dalam bidang psikologi dalam pandangannya pada aliran Humanistik. Rogers mendapat gelar Ph. D.-nya dari Columbia University Teachers College pada tahun 1931 dan terus menjadi terkenal dalam mengembangkan non-directive atau client-centered therapy. Pendekatan Rogers terhadap terapi dan model kepribadian sehat yang dihasilkannya, memberikan suatu gambaran tentang kodrat manusia yang disanjung-sanjung dan optimistis. Tema pokoknya adalah suatu refleksi tentang apa yang dipelajarinya tentang dirinya pada usia 20 tahun: bahwa seseorang harus bersandar pada pengalamannya sendiri tentang dunia karena hanya itulah kenyataan yang dapat diketahui oleh seorang individu.

                Pendekatan Roger : Kepribadian
                Seperti yang telah diungkap di atas. Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama pada klien, bukan pada ahli terapi. Karena itu disebut  “terapi yang berpusat pada klien” (client-centered therapy). Jelas, metode ini menganggap bahwa indovidu yang terganggu memiliki suatu tingkat kemampuan dan kesadaran tertentu dan mengatakan kepada kita banyak tentang pandangan Rogers mengenai kodrat manusia. Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan (toilet training), penyapihan yang lebih cepat, atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Hal-hal ini tidak mengutuk kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat dikontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting daripada masa lampau. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara pandang kita  pada masa sekarang.
                Motivasi Orang yang Sehat : Aktualisasi
                Rogers meletakkan suatu dorongan – “suatu kebutuhan fundamental” – dalam sistemnya tentang kepribadian: memelihara, mengaktualisasikan, dan meningkatkan semua segi individu. Semua kecenndrungan ini dibawa sejak lahir yang meliputi komponen fiosiologis dan psikologis, yang mana pada awalnya fisiologis cenderung lebih dominan. Pertumbuhan dan perkembangan manusia sangat berkaitan dengan aktualisasi ini. Pada tingkat rendah, aktualisasi lebih mengena pada kebutuhna fisiologis dasar akan makanan, air dan udara. Karena itu kecendrungan aktualisasi itu memungkinkan organism hidup terus dengan membantu dan mempertahankan kebutuhan-kebutuhan jasmani dasar.
                Akan tetapi tidak terpaku pada pengertian sempit diatas. Aktualisasi sebenarnya jauh lebih luas dan kompleks. Dapat diambil contoh begini; Roger membandingkan perjuangan dan rasa sakit yang terjadi ketika seorang anak belajar berjalan. Anak itu tersandung dan jatuh serta merasa sakit. Akan lebih mudah dan kurang merasa sakit kalau tidak berusaha untuk berdiri dan belajar berjalan. Walaupun demikian anak itu masih terus berusaha dan akhirnya berhasil. Apa sebabnya anak itu pantang mundur ? Rogers berpendapat bahwa kecendrungan untuk aktualisasi sebagaitenaga pendorong adalah jauh lebih kuat daripada rasa sakit dan perjuangan serta setiap dorongan yang ikut menghentikan usaha untuk berkembang.
                Ketiika seseorang bertambah besar, maka “diri” pun mulai berkembang. Pada saat itu pun aktualisasi yang berupa tekanan fisiologis berubah perlahan menjadi psikologis secara bertahap. Masa dimana aktualisasi fisiologis telah mencapai puncaknya, maka perkembangan aktualisasi selanjutnya adalah aktualisasi psikologis yang lebih kompleks.  Aktualisasi diri adalah prosese menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi psikologisnya yang unik. Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan bahwa hasil ciptaan yang sangat penting adalah diri orang itu sendiri.

                Perkembangan “ Diri “
                Anak anak mulai bisa membedakan antara segi pengalaman yang ada pada dirinya dan orang lain. Segi ini dinamakan, yang digambarkan dengan bertambahnya kata “aku” atau “milikku”. Anak membedakan antara apa yang menjadi miliknya  atau bagian dirinya dengan benda lain yang ia inderai dan ketika dia mampu membentuk suatu kesan atau gambaran tentang dirinya, anak itu mengembangkan suatu “self-concept”.
                Cara bagaimana diri itu berkembang dan apakah dia akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu dalam masa kanak-kanaknya. Pada saat awal perkembangan anak, anak belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebutnya dengan positive regards. Positive regards merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting dan dimiliki oleh setiap manusia; setiap anak terdorong untuk mencari positive regards ini. Anak puas bila mendapat kasih saying dan cinta yang cukup tetapi bagaimanakah dengan anak yang kekurangan kasih saying dan cinta ? Apakah anak itu akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak sehat ? semuanya bergantung pada sejauh manakah positive regards ini dipuaskan dengan baik.
                Self concept yang berkembang sangat erat pengaruhnya dengan sosok ibu. Sejauh manakah sang ibu memberikan positive regards ini pada anaknya ? Apabila Ibu menolak dan selalu mencela anaknya, anak akan berusaha  merencanakan tingkah lakunya sesuai dengan apa yang diharapkan ibunya tersebut, berarti anak mengharapkan bimbingan tingkah lakunya dari oranglain, bukan dari dirinya sendiri. Karena anak telah kecewa atas penolakan dan celaan kebutuhan akan positive regards menjadi semakin besar, jadi anak itu harus kerja keras untuk mendapat positive regards dengan mengorbankan aktualisasi dirinya. Dalam situasi ini kemungkinan anak akan melakaukan yang disebut dengan conditional positive regards yaitu  syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Dalam bahasa sederhana, anak akan mendapat cinta dan kasih saying bila berperilaku sesuai apa yang diinginkan orang tuanya, dan ini membatasi aktualisasi diri anak tersebut dan membuatnya resah dan cemas yang masuk dalam kesemuan kasih sayang. Sedangkan Unconditional positive regards adalah penghargaan positif tanpa syarat. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih saying tanpa memperhatikan bagaimana anak beringkah laku. Cinta da kasih saying diberikan secara bebas. Namun tidak berarti bahwa anak diperbolehkan melakukan apa saja yang diinginkan tanpa dinasehati.

                Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
                Maksudnya adalah orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh tanpa adanya hambatan dan bisa terus maju hingga tujuan akhir. Disini ada lima sifat orang yang berfungsi secara penuh menurut Rogers.
1.       Keterbukaan pada pengalaman
Seseorang yang tidak terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tak satu pun yang harus dilawan karena tak satu pun mengancam. Jadi, keterbukaan terhadap pengalaman adalh lawan dari sikap defensive.
2.       Kehidupan Eksistensial
Kehodupan yang berawal dari sebuah keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman, tidak memiliki diri yang berprasangka atau tegar, tidak harus mengontrol diri atau memanipulasi diri sehingga dengan bebas dapat berpartisipasi.
3.       Kepercayaan Terhadap Diri
Rogers telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik lebih dapat dipercaya daripada pikiran. Ini berarti Rogers lebih mengutamakan perasaan dibandingkan dengan rasionalitas.
4.       Perasaan Bebas
Rogers percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, maka semakin bebas ia dalam memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan antara alternatif.
5.       Kreativitas
Oang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan social dan cultural.

Sumber :
Schultz, Duane. (1991). Psikologi pertumbuhan: model-model kepribadian sehat. Yogyakarta: Kanisius